BRUSSELS, (CNK) — Uni Eropa menegaskan kesiapannya menghadapi potensi konfrontasi politik dengan Amerika Serikat menyusul ambisi Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih wilayah Greenland. Langkah tersebut dinilai dapat mengancam stabilitas aliansi pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Seorang diplomat Uni Eropa mengatakan Trump menunjukkan sikap agresif dalam kebijakan luar negerinya, sehingga negara-negara Eropa harus bersiap menghadapi segala kemungkinan.
“Kita harus siap menghadapi konfrontasi langsung dengan Trump. Dia sedang berada dalam mode agresif, dan kita perlu bersiap,” ujar diplomat tersebut, Kamis (8/1/2026).
Ambisi pengambilalihan Greenland oleh Amerika Serikat dinilai berpotensi melanggar Piagam NATO, yang mengamanatkan bahwa setiap konflik antarnegara anggota harus diselesaikan secara damai tanpa penggunaan kekuatan, termasuk kekuatan militer.
Amerika Serikat tercatat menjadi anggota NATO sejak 1949, tahun yang sama dengan bergabungnya Denmark—negara yang secara administratif menaungi Greenland—ke dalam aliansi tersebut.
Menyikapi isu ini, enam negara anggota NATO selain Denmark, yakni Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris, mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan bahwa Greenland adalah milik rakyatnya.
“Greenland adalah milik rakyat Greenland. Hanya Denmark dan Greenland yang berhak memutuskan masa depan hubungan mereka,” demikian bunyi pernyataan resmi keenam negara tersebut.
Sementara itu, seorang mantan anggota parlemen Denmark mengakui bahwa negaranya memiliki keterbatasan kekuatan untuk menghalangi ambisi Amerika Serikat.
“Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang harus dilakukan, karena Amerika dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan,” ujarnya.
Pengamat hubungan internasional menilai, jika isu ini terus memanas, bukan hanya hubungan Amerika Serikat dan Eropa yang akan terganggu, tetapi juga soliditas NATO sebagai aliansi militer terbesar di dunia.
(R01-WIS)
![]()







































