SAWAHLUNTO, (CNK) — Sebagian masyarakat Kota Sawahlunto masih meragukan rencana PT Bukit Asam Tbk Unit Pertambangan Ombilin (UPO) untuk kembali mengaktifkan kegiatan penambangan batubara. Keraguan tersebut muncul karena rencana pengoperasian kembali tambang Ombilin telah bergulir selama sekitar 23 tahun, namun hingga kini belum juga terealisasi.
Selama kurun waktu tersebut, tercatat sudah tiga kali pergantian direksi di PT Bukit Asam Tbk serta lima kali pergantian wali kota di Sawahlunto. Meski demikian, rencana pengoperasian kembali tambang belum juga terwujud.
Hal itu diungkapkan mantan anggota DPRD Sawahlunto, Epy Kusnadi, yang juga merupakan pensiunan PTBA UPO.
Ia mengatakan bahwa secara kelembagaan DPRD sebelumnya telah menyampaikan aspirasi kepada pihak perusahaan agar tambang kembali dioperasikan.
“Dulu secara kelembagaan dewan sudah menyampaikan hal itu kepada perusahaan, tetapi hingga kini belum juga terealisasi,” ungkapnya.
Epy berharap kali ini keseriusan perusahaan benar-benar terwujud dengan menggarap cadangan batubara terukur sekitar 5–6 juta ton yang berada di kawasan Langkok, Desa Sikalang, Kecamatan Talawi.
“Semoga niat baik dan kesungguhan PTBA UPO untuk menambang kembali dapat terlaksana dengan baik, sehingga menepis keraguan masyarakat terhadap keseriusan perusahaan,” tegasnya.
Sementara itu, General Manager PTBA UPO, Yulfaizon Achong, dalam perbincangan dengan media menyatakan bahwa pihaknya kini benar-benar serius untuk mengaktifkan kembali aktivitas penambangan di kawasan Ombilin.
Menurutnya, survei lapangan telah dilakukan. Bahkan rencana pemindahan tower listrik tegangan tinggi milik PLN yang berada di atas areal penambangan juga sudah mendapat persetujuan dari PLN Pusat di Jakarta.
Ia menjelaskan, proses yang cukup memakan waktu saat ini adalah pengurusan dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang diperkirakan membutuhkan waktu sekitar enam bulan.
“Secara keseluruhan kemungkinan memakan waktu hingga satu tahun. Untuk pemukiman warga, batas areal penambangan masih tergolong aman,” jelasnya.
Achong berharap pada tahun 2027 mendatang aktivitas tambang sudah kembali beroperasi. Jika rencana tersebut terealisasi, kegiatan penambangan diyakini akan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.
“Selain mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, tambang ini juga berpotensi menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja,” tambahnya.
Selain itu, keberadaan kembali tambang Ombilin juga dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik milik PLN Indonesia Power di Sijantang dengan kapasitas 2 x 100 MW, yang membutuhkan pasokan sekitar 2.000 ton batubara per hari.
(R01-WIS)
![]()






































