BEIJING, (CNK) – Sebuah penelitian terbaru dari ilmuwan China mengungkap adanya celah kritis pada sistem pertahanan rudal milik Amerika Serikat dalam menghadapi ancaman senjata hipersonik.
Temuan tersebut muncul di tengah laporan bahwa rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara canggih milik AS dan Israel dalam konflik terbaru di kawasan Timur Tengah.
Penelitian yang dipimpin oleh ilmuwan Liao Longwen dari Northwest Institute of Nuclear Technology itu dipublikasikan dalam jurnal Tactical Missile Technology.
Dalam studi tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa sistem pertahanan udara Amerika saat ini dinilai “kalah tanding” menghadapi rudal hipersonik yang memiliki kecepatan sangat tinggi serta kemampuan manuver ekstrem.
Titik Lemah Sistem Pertahanan AS
Dikutip dari South China Morning Post, tim peneliti menganalisis sistem pertahanan berlapis milik AS, mulai dari fase pencegatan di luar atmosfer hingga fase terminal saat rudal mendekati target.
Hasilnya, sejumlah kelemahan signifikan ditemukan dalam beberapa sistem pertahanan utama Amerika.
Salah satunya adalah sistem Aegis Ballistic Missile Defense System yang menggunakan rudal pencegat SM‑3.
Sistem ini dirancang untuk mencegat rudal balistik di luar atmosfer pada ketinggian lebih dari 100 kilometer. Namun, panas ekstrem yang dihasilkan oleh rudal hipersonik saat memasuki atmosfer dapat mengganggu bahkan “membutakan” sensor inframerah pada sistem pencegat tersebut.
Selain itu, sistem Patriot PAC‑3 MSE yang digunakan untuk pertahanan jarak dekat juga dinilai memiliki keterbatasan waktu reaksi.
Untuk mencegat rudal yang menukik tajam dari kecepatan hipersonik, sistem pencegat harus memiliki percepatan dua hingga tiga kali lebih cepat dari targetnya—sesuatu yang sulit dicapai jika rudal musuh melaju dengan kecepatan di atas Mach 6.
“Secara teoritis sistem pertahanan rudal AS dapat mencegat beberapa senjata hipersonik pada tahap akhir, tetapi kecepatan tinggi, kemampuan manuver, dan karakteristik siluman membuatnya sangat sulit,” tulis Liao dan timnya.
Rudal Iran Diklaim Tembus Sistem Pertahanan
Temuan tersebut muncul bersamaan dengan laporan mengenai serangan rudal Iran yang diklaim berhasil menembus pertahanan udara Israel dan AS.
Rekaman yang beredar menunjukkan sejumlah rudal menghantam target di wilayah Tel Aviv dan sekitarnya dengan kecepatan tinggi.
Pada Kamis (5/3/2026), Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan bahwa dalam putaran ke-17 Operation True Promise 4, rudal hipersonik dan drone serang mereka berhasil menembus sistem pertahanan THAAD milik Amerika.
Menurut klaim Iran, beberapa rudal bahkan menghantam target strategis seperti gedung Kementerian Pertahanan Israel serta Ben Gurion International Airport di dekat Tel Aviv.
Ancaman Baru Senjata Hipersonik
Rudal hipersonik dikenal memiliki kecepatan di atas Mach 5, kemampuan manuver tinggi, serta jalur penerbangan yang sulit diprediksi.
Karakteristik ini membuatnya jauh lebih sulit dideteksi dan dicegat dibandingkan rudal balistik konvensional.
Penelitian Liao juga menyoroti bahwa rudal hipersonik modern sering dirancang dengan sistem redundansi dan ketahanan tinggi.
Artinya, meskipun sebuah pencegat berhasil mengenai sasaran, serangan tersebut belum tentu mampu menghentikan rudal jika tidak mengenai titik vital.
Rencana Sistem “Golden Dome”
Sebagai respons terhadap ancaman tersebut, pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump sebelumnya pernah mengusulkan sistem pertahanan baru bernama Golden Dome.
Konsep ini melibatkan jaringan ratusan satelit orbit rendah yang dilengkapi sistem laser untuk menghancurkan rudal sejak fase awal peluncuran.
Namun para ahli menilai proyek tersebut masih berada pada tahap konsep dan belum siap dioperasikan untuk menghadapi ancaman hipersonik yang berkembang pesat saat ini.
(R01-WIS)
![]()







































