BANTEN, (CNK) – Ketika manusia mati, maka pikiran, perasaan dan emosinya akan lenyap, entah kemana. Karena itu rekaman pikiran, perasaan dan emosi yang bisa diekspresikan semasa hidup menjadi penting dan perlu diabadikan dalam bentuk rekaman, buku atau beragam bentuk dokumen yang dapat diabadikan dalam beragam bentuk yang memungkinkan bagi buah pikiran, ungkapan perasaan serta ekspresi dari emosi yang mungkin ada nilai manfaatnya untuk dikenang, dipelajari atau dapat memahami nilai-nilai serta pengalaman yang spiritual yang ada di dalamnya guna memperkaya dan memperluas wawasan serta pengetahuan yang perlu diketahui, karena kita — sebagai generasi sesudahnya — mungkin tidak mengalami kejadian atau peristiwa atau pengalaman yang sama dari apa yang pernah ada sebelumnya.
Merekam pikiran, perasaan dan emosi dalam bentuk buku, kita dapat memahami nilai-nilai dan pengalaman spiritual yang termuat di dalamnya untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan, serta konteks sejarah serta budaya yang tidak kita alami kemudian, meski semua itu telah berlalu sebagai kenangan pada hari ini dan mungkin hingga kelak dalam jangka waktu yang mungkin tidak terbatas. Sehingga untuk memahami nilai-nilai serta pengalaman spiritual dari mereka yang telah melakukannya kemarin hingga waktu yang telah lampau dapat menjadi pengetahuan — pengalaman — yang dapat menginspirasi atau menumbuhkan ide dan gagasan yang lebih cemerlang dari apa yang pernah terjadi sebelumnya. Dalam konteks ini pula dimensi pada kesadaran sejarah kemarin dan hari ini dapat menghantar untuk memasuki hari esok yang lebih baik, lebih terang dan lebih terarah pada mass depan yang lebih gemilang dan terang. Sehingga tidak perlu tersesat dalam kegamangan.
Pada konteks inilah kesadaran sejarah — jasmerah — membuktikan relevansinya tetap up to date merangkai keterkaitan tentang hari esok adalah kisah kemarin dan apa yang kita lakukan hari sedang menulis sejarah sebagai legelacy yang akan abadi dibanding konstruksi bangunan fisik yang bisa lapuk dan runtuh dilumat jaman. Sebab rekaman pikiran, perasaan serta emosi romatik pada masa silam dapat diputar ulung seperti film dokumenter sejarah yang dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi berikut yang harus lebih unggul, lebih piawai dan lebih maju serta lebih hebat dari generasi sebelumnya dalam melukiskan bentuk dan wajah dari peradaban manusia yang lebih maju dan lebih beradab memposisikan harkat dan martabat manusia yang mulia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mampu menjaga watak bawaan ilahiahnya yang otentik dan original sebagai karunia yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya.
Atas dasar itulah pentingnya untuk mewariskan legelacy yang lebih berwatak monomental sifatnya yang bernilai untuk generasi selanjutnya. Sehingga batu nisan sebagai pemberi kesaksian sejarah, dapat abadi dalam kisah ilmu dan pengetahuan yang ikut membuka cakrawala pandang bisa semakin meluas dan jauh menerawang masa depan yang lebih indah dan membahagiakan anak dan cucu, cicit kita.
Percikan pengalaman spiritual yang mungkin termuat di dalam kesaksian yang terekam itu, bisalah diharap dapat ikut memantu untuk memahami makna hidup dan tujuan mulia dari hidup di dunia ini agar dapat lebih berarti, sebelum akhirnya pun pasti mati. Agaknya begitulah hasrat untuk memaknai kesaksian semasa hidup, sebelum akhirnya mati, mungkin tanpa batu nisan sebagai menuntun para peziarah untuk berkunjung.
Jacob Ereste, 16 Februari 2026
![]()







































