CAHAYANEWSKERPRI.COM – Putra terakhir Shah Iran yang hidup dalam pengasingan, Reza Pahlavi, menyampaikan pernyataan keras menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah target strategis di Iran. Serangan tersebut diklaim oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sejumlah pejabat asing sebagai operasi yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam pernyataannya yang dikutip media internasional, Reza Pahlavi menyebut peristiwa tersebut sebagai momen runtuhnya kekuasaan lama di Iran.
“Tirani telah tumbang dan ini adalah awal dari perayaan nasional besar,” ujar Pahlavi.
Ia menyerukan kepada militer dan aparat keamanan Iran agar tidak lagi mempertahankan apa yang ia sebut sebagai rezim yang sedang runtuh, melainkan turut membantu proses transisi menuju masa depan Iran yang “bebas dan makmur.”
Pahlavi juga memuji peran Presiden AS Donald Trump dalam operasi militer tersebut. Menurutnya, tindakan itu merupakan bentuk dukungan nyata bagi perjuangan rakyat Iran dalam mengakhiri kekuasaan otoriter.
Sementara itu, laporan media internasional seperti Associated Press (AP) dan Reuters mencatat bahwa Donald Trump telah mengumumkan kematian Ayatollah Khamenei dalam operasi tersebut. Namun, pada awalnya informasi itu belum sepenuhnya dikonfirmasi oleh pihak berwenang Iran.
Beberapa media kemudian melaporkan bahwa media pemerintah Iran telah mengkonfirmasi wafatnya Khamenei.
Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta meliburkan sejumlah aktivitas resmi sebagai bentuk penghormatan terhadap pemimpin yang telah memimpin negara tersebut sejak 1989.
Media Inggris The Guardian melaporkan situasi keamanan di Iran meningkat pasca pengumuman tersebut. Sejumlah kota besar dilaporkan berada dalam pengamanan ketat. Reaksi masyarakat pun terbelah antara suasana duka dan munculnya respons politik dari kelompok oposisi.
Kematian Khamenei dinilai berpotensi membuka babak baru dalam dinamika politik Iran dan kawasan Timur Tengah. Para analis memperingatkan bahwa proses suksesi kepemimpinan akan menjadi faktor krusial dalam menentukan stabilitas Iran ke depan.
Perkembangan ini disebut sebagai salah satu titik balik paling signifikan dalam sejarah modern Iran, dengan implikasi luas terhadap hubungan regional dan global.
Sumber: AP News, Reuters
(R01-WIS)
![]()







































