TIGA RAKSA, (CNK) – Manusia memerlukan kecerdasan spiritual, bisa saja tanpa kecerdasan intelektual. Sebab intelektual yang tidak terbimbing oleh spiritual bisa mabuk duniawi. Tamak, rakus, sombong, pongah, egoistik dan sikap serta bersifat buruk lainnya yang tidak percaya pada disa dan azab yang bakal berbalik mendera dirinya sendiri. Pendek kata, semua yang bersifat ilahiyah tidak dipercaya, sehingga jiwa dan batin yang bersangkutan makin jauh berjarak dengan Tuhan.
Dan laku spiritual dapat dilakukan oleh semua orang — dengan cara yang paling sederhana memasuki kedalaman hati dan jiwa atau batin untuk membangun kesadaran diri memahami hakekat hidup dari diri sendiri.
Karena itu, dapat dipahami bahwa memasuki wilayah spiritual bagi bangsa Timur tidak mencari di luar diri sendiri — seperti bangsa Barat yang mencari hakekat spiritual itu di luar sana — sehingga tidak percaya bahwa Tuhan itu sesungguhnya ada di dalam diri setiap manusia yang dipercaya oleh Tuhan sebagai khalifah di muka bumi. Oleh karena itu, ayat-ayat Tuhan yang tidak tertulis dalam Alkitab yang dipercaya oleh agama Abtahamik, yaitu Taurat (kepada Nabi Musa), Zabur (kepada Nabi Daud), dan Injil (kepada Nabi Isa) hingga Al Qur’an (kepada Nabi Muhammad) sebagai wahyu yang menjadi pedoman hidup bagi umat beragama yang ada — termasuk keyakinan dan kepercayaan lainnya — memiliki peluang dan kita kesempatan yang sama untuk menemukan Tuhan melalui jalan spiritual sepanjang hidup, sampai berakhir di liang kubur. Karena itu dalam Islam sangat diyakini bahwa amal baik manusia selama di dunia akan berakhir setelah mati.
Namun amal perbuatan yang baik itu akan terus berlangsung setelah berada di alam kubur adalah meninggalkan anak yang baik adalah amal jariah, ilmu yang bermanfaat serta do’a dari anak yang sholeh — sebagai bukti dari memberi ketauladanan untuk kemaslahatan bagi manusia yang paling dekat hingga kemudian untuk mereka yang jauh, juga untuk selalu berbuat baik bagi manusia yang lain.
“Jika anak Adam (manusia) meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali yiga sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan do’a dari anak yang sholeh’ (HT.Muslim). Lalu apa artinya harta yang berlimpah, kekuasaan yang tidak terbatas, jika tidak ada anal jariah — membantu orang yang susah dan miskin serta mereka yang sangat memerlukan uluran tangan yang penuh cinta dan kasih — maka semua itu tiada ada artinya bukan hanya untuk orang lain, tapi utamanya bagi diri kita sendiri. Atas dasar itulah, tiada alasan bagi siapa saja yang memahami, menghayati dan mendalami laku spiritual untuk tidak membantu orang yang paling dekat, ketika diketahui sedang mengalami kesulitan, kesusahan untuk dibantu serta ditolong semaksimal mungkin sehingga yang bersangkutan bisa terlepas dari himpitan hidup, meski tidak pernah dikatakan secara langsung oleh orang yang bersangkutan.
Begitulah sikap bijak yang perduli dari laku spiritual yang harus tumbuh dan dipelihara sebagai bagian nilai-nilai spiritual untuk membangun kesadaran diri memahami makna dari kehidupan diri sendiri. Karena itu, laku spiritual memang lebih bersifat personal, namun safaat serta barokahnya dapat dinikmati juga oleh orang lain. Maka itu, laku spiritual yang bersifat personal, justru mampu melebur sifat dan sikap individual untuk tidak materialistik, seperti tabiat bawaan dari paham materialis yang kapitalistik itu. Sebab sikap dan sifat tamak, rakus serta hasrat untuk menggagahi hak orang lain akan dibrangus dengan sendirinya dalam kematangan spiritual yang tak mungkin di manipulasi oleh diri sendiri, apalagi untuk orang lain.
Jacob Ereste, 28 Januari 2026
![]()







































