Oleh: Wahyu Hananto Pribadi, S.Sn.
TAPM Bidang Humas dan Media Informasi
Tenaga Pendamping Profesional (TPP) dan aktivitas pemberitaan merupakan dua hal yang memiliki keterkaitan erat dalam upaya mendukung perencanaan dan pembangunan desa.
Pendamping Desa yang merupakan bagian dari TPP memiliki kepentingan untuk menyebarluaskan kerja-kerja pendampingan. Pemberitaan bukan semata-mata menjadi bukti dokumentasi atas pelaksanaan tugas secara transparan dan akuntabel, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk membagikan pengalaman, inovasi, serta praktik baik kepada sesama pendamping dan masyarakat luas.
Hal tersebut menjadi semakin penting mengingat jumlah tenaga pendamping belum sepenuhnya sebanding dengan jumlah desa di Indonesia. Informasi mengenai praktik baik di desa-desa yang berada jauh dari pusat keramaian, termasuk wilayah terluar dan terpencil, perlu mendapat ruang agar dapat diketahui dan dipelajari oleh masyarakat yang lebih luas.
Di tengah perkembangan teknologi informasi, majalah online dan media sosial menjadi sarana yang relatif praktis untuk menyebarluaskan informasi. Karena itu, pengetahuan mengenai dasar-dasar penulisan jurnalistik yang selama ini menjadi bagian dari kompetensi wartawan juga penting dipahami oleh TPP pada berbagai jenjang.
Dari Kegiatan Menjadi Cerita yang Bernilai
Pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa melahirkan berbagai kegiatan, inovasi, perubahan, serta praktik baik yang memiliki nilai informasi dan pembelajaran.
Namun, berbagai capaian tersebut tidak akan memberikan manfaat secara luas apabila hanya berhenti sebagai kegiatan di lapangan tanpa didokumentasikan, dituliskan, dan disebarluaskan.
Pendamping Desa memiliki posisi strategis dalam mendokumentasikan proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Interaksi langsung dengan pemerintah desa, masyarakat, kelompok masyarakat, pelaku usaha desa, maupun pemangku kepentingan lainnya memberikan kesempatan untuk menemukan fakta dan cerita yang memiliki nilai jurnalistik.
Penulisan artikel jurnalistik menjadi salah satu instrumen komunikasi untuk mengubah fakta lapangan menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat.
Artikel yang baik tidak sekadar menceritakan bahwa sebuah kegiatan telah dilaksanakan. Lebih dari itu, artikel harus mampu menjelaskan apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan dan di mana kegiatan berlangsung, mengapa kegiatan tersebut penting, serta bagaimana proses dan dampaknya.
Mengenal Prinsip 5W+1H
Dalam penulisan berita dikenal prinsip 5W+1H, yaitu enam pertanyaan dasar yang menjadi kerangka untuk menggali dan menyusun informasi.
Prinsip tersebut dikenal luas melalui karya Rudyard Kipling dan kemudian berkembang menjadi salah satu dasar dalam penulisan jurnalistik.
Enam pertanyaan dasar tersebut adalah:
– What — Apa yang terjadi?
– Who — Siapa yang terlibat?
– When — Kapan kegiatan atau peristiwa terjadi?
– Where — Di mana kegiatan berlangsung?
– Why — Mengapa kegiatan dilakukan atau mengapa hal tersebut penting?
– How — Bagaimana proses kegiatan berlangsung dan apa hasilnya?
Dengan menggunakan 5W+1H, tulisan diharapkan memiliki informasi yang lengkap, logis, faktual, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ringkasan 5W+1H juga dapat dibuat dalam bentuk infografis sederhana dan disimpan di telepon seluler sehingga mudah digunakan sebagai panduan ketika berada di lapangan.
Hindari Fakta yang Direkayasa
Memahami prinsip jurnalistik saja belum cukup. TPP juga perlu memahami hal-hal yang harus dihindari ketika membuat pemberitaan.
Beberapa di antaranya adalah:
1. Membuat atau merekayasa fakta.
2. Membesar-besarkan keberhasilan sebuah kegiatan.
3. Membuat judul clickbait yang tidak sesuai dengan isi berita.
4. Menyampaikan informasi tanpa sumber yang jelas.
5. Merekayasa atau mengubah kutipan narasumber.
6. Menampilkan angka atau data tanpa sumber.
7. Menggunakan foto yang tidak sesuai dengan peristiwa.
8. Membuat paragraf terlalu panjang sehingga sulit dibaca.
9. Menggunakan bahasa birokratis yang sulit dipahami masyarakat.
10. Mencampurkan fakta dan opini tanpa memberikan penanda yang jelas.
Prinsip utamanya sederhana: tuliskan apa yang benar-benar ditemukan, bukan apa yang diharapkan terjadi.
Contoh Berita Berbasis 5W+1H
Berikut contoh sederhana pemberitaan aktivitas pendampingan desa:
Desa Suka Maju Kembangkan Produk Singkong untuk Tingkatkan Pendapatan Warga
Desa Suka Maju mulai mengembangkan produk olahan singkong sebagai salah satu upaya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi kelompok perempuan desa.
Kegiatan pengembangan produk tersebut dilaksanakan pada 5 September 2026 di Desa Suka Maju, Kecamatan Harapan Warga, Provinsi Sumatera Selatan, dengan melibatkan pemerintah desa, kelompok perempuan, masyarakat, dan Pendamping Desa.
Selama ini, singkong lebih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah. Kondisi tersebut mendorong masyarakat mencoba mengembangkan produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Dalam prosesnya, warga mendapatkan pendampingan mulai dari pengolahan bahan, pengemasan hingga pengenalan pemasaran produk. Tiga jenis produk kemudian diuji untuk mengetahui penerimaan konsumen.
“Melalui pengolahan ini kami ingin agar hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai bahan mentah. Warga bisa mendapatkan nilai tambah dari proses pengolahan,” ujar salah satu anggota kelompok perempuan.
Pengembangan produk tersebut sekaligus membuka peluang pemanfaatan media digital untuk memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas.
Bagi masyarakat, kegiatan ini tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga memberikan pengalaman dalam mengembangkan usaha secara bersama-sama. Ke depan, kelompok perempuan desa berencana meningkatkan kualitas kemasan, memperluas pemasaran, dan mengembangkan variasi produk.
Cerita tersebut menunjukkan bahwa praktik baik desa tidak hanya terletak pada kegiatan yang dilaksanakan. Nilai pemberitaan juga terdapat pada proses, partisipasi masyarakat, perubahan, hasil, dan pembelajaran yang dihasilkan.
Karena itu, keterangan tempat kejadian perlu ditulis secara jelas. Jika memungkinkan, lokasi dapat dilengkapi dengan kecamatan dan provinsi agar pembaca dari daerah lain memperoleh konteks geografis yang lebih mudah dipahami
Checklist Sebelum Dipublikasikan
Sebelum artikel dipublikasikan, lakukan pemeriksaan sederhana dengan memberikan tanda centang:
WHAT ☐ Apakah peristiwa utama sudah jelas?
WHO ☐ Apakah semua nama dan peran penting sudah benar?
WHEN ☐ Apakah tanggal dan waktu sudah benar?
WHERE ☐ Apakah lokasi sudah jelas?
WHY ☐ Apakah alasan dan konteks kegiatan sudah dijelaskan?
HOW ☐ Apakah proses dan hasil kegiatan sudah dijelaskan?
VERIFIKASI ☐ Apakah fakta telah diperiksa?
DOKUMENTASI ☐ Apakah foto sesuai dengan isi artikel?
BAHASA ☐ Apakah tulisan mudah dipahami?
DAMPAK ☐ Apakah pembaca mengetahui manfaat atau pembelajaran dari kegiatan?
Checklist tersebut sederhana, tetapi dapat membantu mengurangi kesalahan informasi sebelum sebuah tulisan disebarluaskan kepada publik.
Temukan, Catat, Tanyakan, Verifikasi
Pada akhirnya, hal terpenting bagi TPP bukan menunggu sampai mahir untuk mulai menulis. Kemampuan menulis justru akan berkembang melalui praktik yang dilakukan secara konsisten.
Alur sederhananya dapat dilakukan melalui tujuh tahapan:
TEMUKAN → CATAT → TANYAKAN → VERIFIKASI → SUSUN → TULIS → EDIT → PUBLIKASIKAN
Setiap kegiatan pendampingan memiliki cerita. Tugas penulis adalah menemukan fakta penting di balik kegiatan tersebut, menggali informasi dari sumber yang tepat, memverifikasinya, kemudian menyusunnya menjadi tulisan yang informatif dan mudah dipahami.
Dengan demikian, pemberitaan aktivitas pendampingan desa tidak hanya menjadi dokumentasi kegiatan, tetapi juga dapat menjadi media berbagi pengetahuan, pengalaman, inovasi, dan praktik baik dari desa kepada masyarakat yang lebih luas.
Semoga tulisan singkat ini dapat membuka wawasan dan mendorong TPP untuk mulai menulis serta memberitakan kerja-kerja pendampingan dengan memperhatikan standar penulisan pemberitaan, sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami dan memberikan manfaat bagi pembaca.
15 September 2026
Oleh: Wahyu Hananto Pribadi, S.Sn.
TAPM Bidang Humas dan Media InformasiSaya juga mengoreksi bagian “15/09/2016” menjadi “15 September 2026”, karena keseluruhan contoh menggunakan tahun 2026.
(Wis)
![]()




































