PALEMBANG, (CNK) — PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) tengah mengkaji sejumlah strategi korporasi untuk merespons dinamika pasar saham domestik dan global. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pembelian kembali saham atau share buyback.
Langkah tersebut dikaji sebagai upaya menjaga stabilitas nilai perusahaan sekaligus memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan.
Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, mengatakan perseroan terus mencermati perkembangan makroekonomi, tren industri energi, serta pergerakan pasar modal sebelum menentukan langkah strategis.
“Kami memahami pentingnya merespons dinamika pasar secara bijak. Saat ini, manajemen PTBA tengah melakukan kajian mendalam atas berbagai opsi strategis, termasuk potensi buyback saham, untuk memastikan setiap keputusan yang diambil senantiasa berlandaskan pada prinsip kehati-hatian yang terukur, tata kelola perusahaan yang baik (*good corporate governance/GCG*), serta kerangka regulasi yang berlaku,” ujar Eko dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/10/2026).
Kajian tersebut dilakukan di tengah capaian kinerja keuangan PTBA yang menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang semester I-2026.
Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp22,03 triliun, meningkat 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih mencapai Rp2,65 triliun atau tumbuh 218 persen secara tahunan (*year-on-year/yoy*).
Kinerja tersebut ditopang pemulihan operasional pada kuartal II, penguatan penjualan ekspor, serta perbaikan harga jual rata-rata batu bara.
Dari sisi operasional, PTBA mencatat produksi batu bara sebesar 19,45 juta ton dengan total volume penjualan mencapai 21,10 juta ton. Penjualan ekspor tercatat sebesar 10,33 juta ton, meningkat sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, pemenuhan kebutuhan energi domestik tetap menjadi prioritas perseroan dalam mendukung ketahanan energi nasional. Hingga semester I-2026, penjualan untuk pasar domestik mencapai 10,77 juta ton atau sekitar 51 persen dari total penjualan.
Manajemen menegaskan, setiap keputusan terkait strategi korporasi akan mempertimbangkan kondisi likuiditas, kebutuhan modal kerja, serta rencana pengembangan bisnis jangka panjang.
Fokus perseroan tetap diarahkan pada penguatan kinerja operasional, efisiensi biaya, keberlanjutan transformasi bisnis, dan dukungan terhadap kedaulatan energi nasional.
Eko menambahkan, apabila hasil kajian memutuskan untuk merealisasikan buyback saham atau tindakan korporasi strategis lainnya, perseroan akan menyampaikan keterbukaan informasi sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dengan demikian, rencana buyback PTBA masih berada pada tahap kajian dan belum merupakan keputusan final. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada hasil evaluasi manajemen serta ketentuan yang berlaku.
H.Darwis Akbar.SH.MM.
(Red)
![]()



































