BANDUNG, (CNK) — Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat 2026 melahirkan Tantan Sulthon Bukhawan sebagai Ketua PWI Jawa Barat periode 2026–2031. Kemenangan Tantan terbilang mutlak setelah memperoleh 444 suara, sementara rivalnya, Hardiansyah, meraih 247 suara.
Dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 755 pemilik hak suara, tercatat 699 suara masuk. Sebanyak dua suara abstain dan enam suara dinyatakan tidak sah.
Secara matematis, perolehan tersebut menunjukkan dominasi Tantan. Ia menguasai sekitar 63,5 persen dari total DPT, sedangkan Hardiansyah berada di kisaran 29 persen. Bahkan, apabila seluruh 45 suara yang belum masuk diasumsikan diberikan kepada Hardiansyah, perolehan Tantan tetap unggul cukup jauh.
Namun, angka 444 suara tentu tidak lahir dalam satu malam. Kemenangan tersebut dapat dibaca sebagai hasil dari sejumlah faktor yang bekerja secara bersamaan, mulai dari gagasan, positioning kandidat, jaringan, komunikasi, konsolidasi hingga kemampuan membangun kepercayaan pemilih.
Mengubah Pertarungan Figur Menjadi Kepercayaan
Salah satu faktor yang menonjol adalah kemampuan menggeser kontestasi dari sekadar pertarungan antarfigur menjadi pertanyaan mengenai masa depan organisasi.
Pemilih tidak hanya dihadapkan pada pertanyaan siapa yang harus dipilih, tetapi juga PWI Jawa Barat akan dibawa ke arah mana dalam lima tahun mendatang.
Sejumlah gagasan yang ditawarkan Tantan, seperti perlindungan wartawan, peningkatan akses Uji Kompetensi Wartawan (UKW), kesejahteraan anggota, BPJS Ketenagakerjaan, digitalisasi, penguatan jaringan serta PWI Creative Hub, menjadi bagian dari narasi perubahan yang ditawarkan.
Dengan demikian, pilihan terhadap kandidat tidak semata didasarkan pada kedekatan personal. Program dan arah organisasi menjadi pertimbangan bagi pemilih yang menginginkan kepastian mengenai masa depan PWI Jawa Barat.
Mesin Konsolidasi yang Relatif Senyap
Dalam setiap kontestasi organisasi, aktivitas yang paling terlihat belum tentu menghasilkan suara terbanyak.
Pola yang terlihat dalam kemenangan Tantan justru menunjukkan konsolidasi yang relatif terukur. Tim pendukung bekerja melalui jaringan masing-masing, menjaga komunikasi dan menghindari konflik terbuka yang berlebihan.
Prinsip yang digunakan sederhana: bukan mengandalkan satu figur, melainkan membangun kerja tim.
Efektivitas mesin konsolidasi kemudian terlihat dari hasil pemungutan suara. Sebanyak 444 pemilik suara memberikan mandat kepada Tantan untuk memimpin PWI Jawa Barat selama lima tahun ke depan.
Positioning dan Identitas Kampanye
Positioning juga menjadi bagian penting dalam kontestasi. Tantan dibangun sebagai figur yang memahami PWI dari dalam, memiliki pengalaman organisasi, jaringan luas dan dinilai siap menghadapi tantangan organisasi ke depan.
Tagline “PWI Jabar Istimewa” turut menjadi identitas komunikasi yang mudah diingat. Pesan tersebut membuat gagasan tentang masa depan organisasi lebih sederhana dan mudah dikomunikasikan kepada anggota.
Dalam komunikasi organisasi, identitas semacam ini berfungsi sebagai jangkar pesan. Pemilih tidak hanya mengingat nama kandidat, tetapi juga mengingat arah perubahan yang ditawarkan.
Efek Ikut Arus
Kontestasi organisasi juga mengenal fenomena bandwagon effect, yakni kecenderungan sebagian pemilih mengikuti kandidat yang dianggap memiliki peluang kemenangan lebih besar.
Persepsi tersebut biasanya terbentuk melalui komunikasi informal, pertemuan antarkawan, konsolidasi, percakapan di berbagai kelompok komunikasi hingga interaksi langsung dengan pemilih.
Ketika salah satu kandidat terlihat memiliki organisasi pendukung yang solid, arah yang jelas dan komunikasi yang terukur, persepsi mengenai kekuatan kandidat dapat tumbuh.
Persepsi kemudian dapat berubah menjadi keyakinan, dan pada akhirnya diterjemahkan menjadi pilihan.
Mengedepankan Gagasan
Hal lain yang menarik adalah kecenderungan komunikasi pendukung Tantan yang lebih banyak menonjolkan program dibandingkan serangan terhadap kandidat lain.
Pendekatan tersebut penting dalam organisasi profesi yang dihuni wartawan dan kalangan intelektual. Kampanye yang terlalu agresif berpotensi meninggalkan persoalan setelah konferensi berakhir.
Sebaliknya, komunikasi yang mengedepankan gagasan memberikan ruang bagi anggota untuk menentukan pilihan tanpa harus terseret ke dalam konflik berkepanjangan.
Kekuatan Jaringan dan Pertemanan
Perolehan 444 suara juga menunjukkan bahwa dukungan terhadap Tantan tidak hanya berasal dari satu kelompok.
Besarnya suara tersebut mengindikasikan adanya dukungan lintas jaringan dan kelompok. Kemampuan membangun komunikasi dengan anggota PWI, pengurus, jaringan media, serta berbagai elemen lain menjadi bagian dari proses konsolidasi.
Faktor pertemanan dan jaringan tentu tidak dapat dipisahkan dari kontestasi organisasi. Namun jaringan hanya akan efektif apabila dibarengi dengan komunikasi dan kepercayaan.
Kemenangan Tantan juga memberikan satu pelajaran: modal besar tidak selalu menjamin kemenangan. Sebaliknya, sumber daya yang terbatas dapat menjadi efektif ketika dikelola melalui strategi, jaringan dan konsolidasi yang tepat.
444 Suara Bukan Akhir Perjalanan
Pada akhirnya, angka 444 adalah hasil akhir dari sebuah proses panjang. Kemenangan dalam pemilihan memang penting, tetapi tanggung jawab terbesar justru dimulai setelah konferensi selesai.
Mandat tersebut kini harus diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Tantan menghadapi pekerjaan besar untuk menyatukan seluruh anggota PWI Jawa Barat setelah kontestasi yang diwarnai dinamika. Rekonsiliasi menjadi langkah penting agar perbedaan pilihan tidak berkembang menjadi perpecahan organisasi.
Karena itu, lima tahun ke depan akan menjadi ujian sesungguhnya. Bukan lagi tentang seberapa besar kemenangan pada 12 Agustus 2026, melainkan seberapa jauh mandat tersebut mampu diubah menjadi kepercayaan bersama.
REKONSILIASI. SATUKAN. BEKERJA. BUKTIKAN. WARISKAN.
Konferensi telah selesai. Perbedaan pilihan adalah bagian dari demokrasi organisasi. Namun setelah suara dihitung, tidak ada lagi 444 dan 247.
Yang ada adalah satu PWI Jawa Barat.
Kini waktunya kembali ke rumah besar PWI, menutup perbedaan, merajut kebersamaan dan bekerja untuk membangun organisasi yang lebih solid, profesional, terlindungi, sejahtera serta mampu menghadapi perubahan zaman. (Wis)
![]()






































