JAKARTA, (CNK) — Nama Dipa Nusantara Aidit atau D.N. Aidit menjadi salah satu nama yang paling diburu aparat keamanan setelah pecahnya Gerakan 30 September 1965. Sebagai Ketua CC PKI, keberadaan Aidit menjadi sasaran pengejaran ketika situasi politik dan keamanan Indonesia berubah drastis pasca-peristiwa 30 September–1 Oktober 1965.
Pengejaran terhadap Aidit berlangsung hingga Jawa Tengah. Salah satu operasi pencarian tersebut dipimpin Kolonel Jasir Hadibroto, yang ketika itu menjabat Komandan Brigade Infanteri IV Kostrad.
Berdasarkan catatan wartawan Julius Pour, setelah berminggu-minggu melakukan pengejaran, aparat memperoleh informasi intelijen mengenai keberadaan Aidit. Pada November 1965, jejaknya mengarah ke wilayah Solo.
Pada 21 November 1965, persembunyian Aidit disebut berpindah dari kawasan Kleco menuju Kampung Sambeng, Solo, yang berada sekitar 300 meter dari Stasiun Solo Balapan.
Aidit kemudian disebut bersembunyi di sebuah rumah yang memiliki keterkaitan dengan anggota Serikat Buruh Kereta Api. Informasi mengenai keberadaannya membuat aparat menyusun operasi pengepungan.
Sekitar pukul 21.00 WIB, pasukan yang dipimpin Letnan II Infanteri Ning Prajitno mengepung rumah tersebut. Pasukan kemudian mendobrak masuk dan melakukan penggeledahan.
Namun, rumah itu terlihat kosong.
Aidit tidak ditemukan.
Penyisiran kemudian dilakukan lebih teliti. Di atas sebuah meja, prajurit menemukan kacamata baca. Temuan tersebut menimbulkan dugaan bahwa orang yang mereka cari masih berada di dalam atau sekitar rumah.
Penyisiran dilanjutkan.
Seorang prajurit bernama Kosim kemudian menggeser sebuah lemari makan. Di balik lemari itu ternyata terdapat pintu menuju sebuah ruangan tersembunyi.
Di dalam ruangan tersebut terdapat lemari pakaian.
Saat lemari diperiksa, pakaian yang tergantung di dalamnya terlihat bergerak. Setelah dibuka dan diperiksa lebih lanjut, ternyata terdapat seseorang yang bersembunyi di balik pakaian.
Orang tersebut adalah D.N. Aidit.
“Menko?” — “Mengko? Saiki!”
Kisah penangkapan Aidit kemudian memiliki satu bagian yang cukup unik dan sering diceritakan dalam berbagai penuturan sejarah.
Menurut kisah yang dimuat dalam majalah Senakatha terbitan Pusat Sejarah ABRI pada Januari 1992, prajurit yang menemukan Aidit memerintahkannya keluar dan menyerah.
Aidit mengakui identitasnya. Namun, dalam penuturan tersebut, Aidit disebut sempat mengatakan bahwa dirinya adalah seorang “Menko”, singkatan dari Menteri Koordinator.
Prajurit yang berasal dari wilayah Kartasura itu disebut memahami kata “Menko” sebagai kata Jawa “mengko”, yang berarti “nanti”.
Muncullah percakapan singkat yang kemudian menjadi bagian dari kisah penangkapan Aidit:
“Menko?”
“Mengko? Saiki!”
Dalam bahasa Indonesia, kurang lebih berarti: “Nanti? Sekarang!”
Meski demikian, detail percakapan tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari kesaksian atau penuturan sejarah yang kemudian dibukukan. Tidak terdapat rekaman langsung mengenai dialog tersebut.
Setelah ditemukan, Aidit kemudian dibawa keluar dari tempat persembunyiannya. Menurut catatan Julius Pour, Letnan Ning Prajitno memerintahkan Sersan Idit Sukardi untuk mengikat tangan Aidit.
Pelarian Aidit selama berminggu-minggu pun berakhir.
Dibawa ke Loji Gandrung
Aidit kemudian dibawa ke markas Brigade Infanteri IV di Loji Gandrung.
Menurut kesaksian Kolonel Jasir Hadibroto yang dikutip dalam sejumlah sumber sejarah, Aidit sempat meminta agar dirinya dibawa menghadap Presiden Soekarno.
Permintaan tersebut tidak dipenuhi.
Pada 22 November 1965, Aidit kemudian dibawa menuju wilayah Boyolali. Berdasarkan kesaksian Jasir Hadibroto, perjalanan tersebut tidak berakhir di Semarang sebagaimana rencana awal.
Aidit justru dibawa ke sebuah lokasi yang kemudian disebut sebagai markas Batalyon Infanteri 444.
Di tempat itulah perjalanan hidup Aidit berakhir.
Dalam kesaksiannya, Jasir Hadibroto menyebut Aidit sempat menyampaikan pidato sebelum kemudian ditembak. Jasadnya selanjutnya disebut dimasukkan ke sebuah sumur.
Namun, berbagai sumber sejarah mencatat adanya perbedaan mengenai sejumlah detail terakhir kehidupan Aidit. Karena itu, kronologi tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai versi berdasarkan kesaksian Jasir Hadibroto, bukan sebagai satu-satunya versi yang tidak terbantahkan.
Jejak yang Berakhir di Balik Lemari
Penangkapan D.N. Aidit pada November 1965 menjadi bagian dari rangkaian peristiwa besar setelah Gerakan 30 September.
Selama pengejaran, Aidit berpindah-pindah tempat. Informasi intelijen akhirnya mengarahkan aparat menuju sebuah rumah di Kampung Sambeng, Solo.
Di rumah itulah persembunyiannya terbongkar.
Bukan melalui perlawanan atau pengejaran di jalan, melainkan melalui sebuah benda sederhana: kacamata baca yang tertinggal di atas meja.
Dari kacamata itu, penyisiran berlanjut hingga aparat menemukan pintu tersembunyi di balik lemari makan. Di balik pintu tersebut terdapat ruangan kecil dengan lemari pakaian.
Dan di balik pakaian itulah Aidit ditemukan.
Kisah tersebut kemudian dilengkapi dengan percakapan yang tidak kalah unik—kata “Menko” yang dipahami sebagai “mengko”, lalu dijawab dengan “saiki”, atau “sekarang”.
Di tengah ketegangan politik Indonesia pada akhir 1965, kisah kecil tersebut menjadi salah satu detail yang terus muncul dalam berbagai penuturan mengenai penangkapan Aidit.
Sejarah D.N. Aidit tidak hanya tercatat melalui kedudukannya sebagai tokoh utama PKI dan perannya dalam pergolakan politik 1965. Ia juga dikenang melalui akhir pelariannya: sebuah rumah di Solo, kacamata yang tertinggal, pintu tersembunyi, lemari pakaian, dan sebuah percakapan singkat yang hingga kini menjadi bagian dari cerita sejarah Indonesia. (_Wis_)
![]()



































